Aku remaja putus sekolah SMA kelas 2. Umurku sekarang 18 tahun. Dulu putus sekolah karena putus cinta, tepatnya bukan putus cinta tapi broken heart karena cintaku ditolak oleh Putri idola sekolahku. Karena malu dan terus di ejek kawan- kawan lain aku tak mau lagi ke sekolah. Mereka bilang, “ awak timun nak dekat dengan duren”, alamak malunya aku. Waktu itu tak ada seorang pun yang memberikan dukungan padaku. Orang tuaku marah besar, kakakku sampai tak mau meminjamkan motornya lagi padaku.
Dasar “bengak” begitu kata orang dusun Pulau Betung tempat tinggal ku, aku tak peduli bahkan orang tuaku tidak memberikan lagi uang saku. Aku tetap mogok sekolah, aku meminta pindah sekolah ke tempat lain tapi orang tuaku tidak setuju. Jadilah aku jomblo kere.
Aku pergi bersama teman- teman yang bernasib hampir sama. Dengan berbagai alasan tidak sekolah lagi, ada yang putus sekolah setelah tamat SMP, ada yang seperti aku tidak tamat SMA. Kami punya tempat kumpul- kumpul biasanya disitu banyak cerita dengan berbagai topik dan rencana “nyari lokak “ kata orang Jambi. Kami mencari uang sendiri. Kerja serabutan kadang kami jadi buruh angkut pasir dan kerikil ditepi sungai Batang Hari, istilah orang dusun kami “kerjo dompeng”. Pembagian pekerjaannya, ada yang ikut perahu motor ketengah sungai Batang Hari “nyedot” pasir dan kerikil dan ada juga yang bertugas memindahkan muatan pasir dan kerikil ke lopon di daratan pinggir sungai Batang Hari.
Kalau dompeng lagi sepi karena air sungai surut kami cari “lokak” lain membersihkan kolam ikan. Di Pulau Betung banyak kolam ikan tempat budidaya ikan nila dan ikan patin. Selain itu kami bisa juga menjadi pemahat di sentra ukiran kayu Pulau Betung. Hasil ukiran berupa “handle” gigi untuk mobil, asbak, kursi, meja dan hiasan ruangan berupa ukiran ular naga, burung elang dan ikan aruwana sesuai pesanan. Kami belajar mengukir secara otodidak dari pendahulu. Saat ini sudah ada yang pernah ikut pelatihan ke Jepara atas dukungan Perindustrian.
Setiap hari ada saja pekerjaan dan asik kumpul kawan- kawan aku tambah malas sekolah, kuncinya rajin cari “lokak”. Aku sudah mampu beli motor walaupun bekas. Beli HP dan pakaian kekinian. Pokoknya aku sudah merasa nyaman dan sejahtera. Orang tuaku tidak marah lagi padaku. Sekali- sekali masih ku dengar sesalan ibu ku karena tidak menamatkan SMA ku. Aku hanya diam membisu.
Pada suatu hari ibu penyuluh KB datang ke desa kami. Beliau mengumpulkan remaja desa Pulau Betung di aula kantor desa. Di dukung oleh ketua Karang Taruna yang kami panggil ketua Jangte. Kami sangat hormat dan segan pada beliau, terus terang saat ini aku lebih patuh pada ketua (begitu kami memanggilnya) dari pada orang tuaku. Parah memang. Kadang kalau ada orang tua butuh menasehati kami orang tua meminta ketua yang menyampaikan hajatnya. Ibu Penyuluh KB menjelaskan tentang program BKKBN untuk remaja yaitu PIK R. Selama ini aku mengira program KB hanya melulu tentang kontrasepsi.
PIK-R (Pusat Informasi dan Konseling Remaja) adalah suatu wadah kegiatan program Generasi Berencana (GENRE) yang dikelola dari, oleh, dan untuk remaja guna memberikan pelayanan informasi dan konseling tentang Perencanaan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR) serta kegiatan-kegiatan penunjang lainnya. Untuk menampung kebutuhan program PKBR dan menarik minat remaja datang ke PIK Remaja, nama genre ini dapat dikembangkan dengan nama-nama yang sesuai dengan kebutuhan program dan selera remaja setempat.
Pengertian dalam program PIK R:
1. Kesehatan Reproduksi Remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem reproduksi (fungsi, komponen, dan proses) yang dimiliki oleh remaja baik secara fisik, mental, emosional, dan spiritual.
2. PKBR adalah suatu program untuk memfasilitasi terwujudnya Tegar Remaja, yaitu Remaja yang berprilaku sehat, terhindar dari resiko TRIAD KRR (Sexualitas, Napza, HIV dan AIDS), menunda usia pernikahan, mempunyai perencanaan kehidupan berkeluarga untuk mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera serta menjadi contoh, model, idola, dan sumber informasi bagi teman sebayanya.
3. TRIAD KRR adalah 3 resiko yang dihadapi oleh remaja yaitu resiko-resiko yang berkaitan dengan Sexualitas, Napza, HIV dan AIDS.
4. Resiko Sexualitas adalah sikap dan perilaku seksual remaja yang berkaitan dengan Infeksi Menular Seksual (IMS), Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), aborsi, dan resiko perilaku seks sebelum nikah.
5. HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menurunkan sistem kekebalan tubuh manusia.
6. AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yaitu kumpulan dari berbagai gejala penyakit akibat turunnya kekebalan tubuh individu yang didapat akibat HIV.
7. Napza adalah singkatan dari Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, yaitu zat-zat kimiawi yang dimaksudkan kedalam tubuh manusia baik secara oral (melalui mulut), dihirup (melalui hidung), atau disuntik yang menimbulkan efek tertentu terhadap fisik, mental, dan ketergantungan.
8. Remaja (Adolescent) adalah penduduk usia 10-19 tahun (WHO); Pemuda (Youth) adalah penduduk usia 15-24 tahun (UNFPA); Orang Muda (Young People) adalah Penduduk usia 10-24 tahun (UNFPA dan WHO); Generasi Muda (Young Generation) adalah penduduk usia 12-24 tahun (World Bank). Remaja sebagai sasaran program PKBR adalah penduduk usia 10-24 tahun yang belum menikah.
9. Pendidik Sebaya PKBR adalah remaja yang mempunyai komitmen dan motivasi yang tinggi sebagai narasumber bagi kelompok remaja sebayanya dan telah mengikuti pelatihan Pendidik Sebaya PKBR dengan mempergunakan Modul dan Kurikulum Standar yang telah disusun oleh BKKBN atau yang sejenis.
10. Konselor Sebaya PKBR adalah Pendidik Sebaya yang punya komitmen dan motivasi yang tinggi untuk memberikan konseling PKBR bagi kelompok remaja sebayanya yang telah mengikuti pelatihan konseling PKBR dengan mempergunakan Modul dan Kurikulum Standard yang telah disusun oleh BKKBN atau yang sejenis.
11. Pengelola PIK Remaja adalah pemuda/remaja yang punya komitmen dan mengelola langsung PIK Remaja serta telah mengikuti pelatihan dengan mempergunakan Modul dan Kurikulum Standard yang telah disusun oleh BKKBN atau yang sejenis. Pengelola PIK Remaja terdiri dari Ketua, Bidang Administrasi, Bidang Program dan Kegiatan, Pendidik Sebaya dan Konselor Sebaya.
12. Pembina PIK Remaja adalah seseorang yang mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap masalah-masalah remaja, memberi dukungan dan aktif membina PIK Remaja, baik yang berasal dari Pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau organisasi kepemudaan/remaja lainnya.
13. Pendidik sebaya dan konselor sebaya adalah jabatan dalam organisasi PIK R. Pengertian Pendidik Sebaya : Remaja/ Mahasiswa yang mempunyai komitmen dan motivasi yang tinggi sebagai narasumber bagi kelompok remaja/ mahasiswa dan telah mengikuti pelatihan pendidik sebaya dengan menggunakan modul dan kurikulum standar yang telah disusun.
Bagaimana menjadi PS
• Aktif dalam kegiatan sosial → untuk menjadi PS dibutuhkan jiwa sosial yang tinggi, karena sesuai dengan singkatannya “Pendidik Sebaya”.
• Motivasi tinggi → motivasi itu perlu untuk seorang PS untuk menghilangkan prasangka-prasangka negative yang sedang dihadapi.
• Komunikasi bagus → pendidik itu harus dapat berkomunikasi kepada didikannya, agar terjadi hubungan timbal-balik antar ke-duanya.
• Berfikiran terbuka → jika seorang PS berfikiran tertutup, biasanya dia kesulitan dalam menanggapi pertanyaan/permasalahan dari didikannya.
14. konselor sebaya itu adalah bantuan yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lainnya yang dalam konteks ini yang seumuran atau sebaya dalam rangka membantu individu dalam memahami, menerima, mengarahkan, mengaktualisasi diri, menjadi jembatan dan pendengar yang baik.
Bagaimana menjadi KS?
• Berpengalaman menjadi PS → sesuai dengan tahapannya, sebelum menjadi seorang KS kita harus berpengalaman dalam PS.
• Telah mengikuti pelatihan → untuk menjadi seorang KS harus melewati pelatihan agar dia tidak “nervous” dalam hal prakteknya.
• Empati → seorang KS harus dapat merasakan apa yang dihadapi oleh “client”-nya baik senang, sedih, gelisah, dll agar dapat mengetahui inti dari permasalahan.
• Kontrol diri → seorang KS harus dapat mengontrol jiwa-raganya agar “client” merasa nyaman dalam melakukan konseling.
• Berpengetahuan luas → seorang KS harus memiliki wawasan ilmu pengetahuan yang luas, baik dari pengalaman sendiri, ataupun dari refrensi sumber-sumber lainnya. Tujuannya adalah agar kita mampu menjawab ataupun memecahkan problem yang dihadapi oleh “client”.
• Apa sih Peran PS dan KS?
Sebagai “TUKANG POS”
Sebagai Penyampai informasi kepada teman sebaya.
Sebagai “TEMPAT SAMPAH”
Sebagai tempat penampung masalah, tetap menjaga kehormatan dan harga diri teman.
Sebagai “PERAWAT”
Sebagai pendamping untuk teman sebayanya.
Sebagai “DOKTER”
Sebagai pemberi solusi terhadap permasalahan teman sebaya.
Penjelasan tentang program PIK R sangat menarik, kami membentuk organisasi PIK R yang diberi nama PIK R GERMAS. Nama itu mudah- mudahan menjadi do´a agar kami menjadi Generasi Emas yang berharga bagi desa kami. Aku menjadi ketua dan Pendidik Sebaya.
Kemudian kami mulai menyusun rencana kegiatan:
1. Pengesahan SK PIK R
2. Menentukan sasaran dan anggota PIK R GERMAS. Mendata remaja umur 10 tahun sd 24 tahun yang belum menikah.
3. Membagi kelompok umur sasaran anggota PIK R Germas:
Umur 10 tahun sd 15 tahun
Umur > 15 tahun sd 19 tahun
Umur > 19 tahun sd 24 tahun
4. Menyusun rencana kegiatan:
Pembinaan PS dan KS oleh Penyuluh KB
Menyusun jadwal penyuluhan oleh PS
Mengajukan permohonan pembinaan dari:
KUA
Polsek
BNN
Perindagkop
Pertanian, Peternakan dan Perikanan
Di fasilitasi oleh desa dan karang taruna.
Mengajukan usulan ke musdes agar anggota PIK R Germas mendapatkan: pelatihan perbengkelan, menjahit, kuliner dan kerajinan barang bekas.
Memfasilitasi remaja putus sekolah agar bisa melanjutkan pendidikan formal melalui kejar paket A, B, C
Ibu Penyuluh KB memotivasi kami yang putus sekolah tetap melanjutkan pendidikan formal yang telah kami tinggalkan. Wajib menamatkan SMA walaupun melalui melalui kejar paket C.
Ibu Penyuluh KB juga memotivasi kami agar aktif ikut kegiatan PIK R, berpartisipasi dalam lomba baik duta Genre maupun lomba kelompok PIK R. Saat ini PIK R Germas dalam tahapan TEGAR. Kedepan kami ingin menjadi PIK R unggulan yang bisa memberikan edukasi pada kelompok PIK R lain agar bisa menjadi PIK R TEGAR juga. Kami sedang dalam proses membuat kegiatan unggulan berupa film pendek tentang program Genre dan bekerja sama dengan BUMDES Mutiara desa Pulau Betung untuk bisa memasarkan produk hasil kerajinan anggota PIK R GERMAS.
Maka aku dan teman- temanku terus berusaha menjadi remaja yang pantas dibanggakan. Aku berusaha memotivasi teman- teman yang bermasalah untuk bangkit dan selalu percaya diri. Masalah cinta yang waktu itu menyebabkan aku putus sekolah ternyata masalah kecil yang seharusnya tidak menyebabkan aku putus sekolah. Aku malu dengan diriku sendiri, seharusnya aku dapat menjadikan patah hati menjadi motivasi untuk memantaskan diri untuk berprestasi.
Kini aku bersama PIK R Germas akan membantu adik- adik dan teman- teman sebaya melalui masa remaja dengan baik, mempersiapkan diri untuk membentuk keluarga yang berkualitas dimasa depan. Menikah minimal 25 tahun untuk laki- laki dan 21 tahun untuk perempuan.
Semoga kami tetap istiqomah dalam memperbaiki diri setiap hari menjadi lebih baik.
Penulis:
NIKAWATI, S.ST
PKB AHLI MUDA
BATANG HARI, JAMBI
Tulis Komentar